Cerita Cinta tak lekang dimakan waktu,
Membuka tabir hati yang melonjak riang,
Rindu yang menerjang membuatmu terdiam, membungkam rasa penasaran....
Tuesday, April 18, 2017
Tabir Hati
Thursday, February 4, 2016
Sedikit uneg-uneg tentang Imlek
BERBAHAGIALAH DENGAN KEPERCAYAAN MASING-MASING!!!
TAHUN BARU IMLEK / TAHUN BARU CHINA / CHINESE NEW YEAR
Indonesia terdiri dari berbagai suku dan budaya, salah satunya budaya
China dan perayaan imlek selalu bisa dirasakan kesibukannya disetiap
sudut terutama yang dihuni warga keturunan China. Barongsai, Tanjidor,
aneka kuliner sudah menyatu dengan budaya Indonesia bukan lagi milik
golongan suku atau agama, semua itu menjadi nilai tambah untuk keragaman
Indonesia Raya.
Saya tidak merayakan Imlek tapi saya menghargai
kehidupan orang lain walaupun mereka berbeda suku dan agama, bukan saya
ingin menghalalkan perayaan Imlek karena rasa menghargai itu, tapi saya
hanya ingin tetap menjadi orang Indonesia dan menjadi bagian dari
keaneka ragaman yang ada didalamnya.
Saya tidak akan mengucapkan
Selamat Hari Raya Imlek tapi saya hanya ingin menyampaikan selamat
berbahagia dengan kepercayaan masing-masing, khususnya untuk teman-teman
saya yang berdarah China dan untuk seluruh rakyar Indonesia pada
umumnya.
BE HAPPY WITH YOUR BELIEF (^_^))) JUMMA MUBARAK EVERYONE.
Monday, February 9, 2015
Banjir Jakarta
FAKTA bukan membela siapapun, cuma mengajak berfikir realistis aja..
Dari tahun ke tahun Jakarta gak pernah bebas dari banjir, bahkan sejak jaman penjajahan Belanda dulu #googling aj, gue yakin loe lbh pinter deh....tiap tahun banjir yg "mengepung" Jakarta seperti saat ini selalu terjadi, tapi yg paling heboooh ya tahun ini, kenafaa???? Nyalahinnya enak pass banget ke Jokowi and Ahok....dulu2 kemane aje ente?....
Ya sudah lah, suka atau benci mereka sudah diberi mandat menimpin negara dan ibukota nya, sebagai rakyat yg baik dan kritis, mari bantu kesusahan yang
kebanjiran, kritis nya silahkan pada tempatnya.. kritis beda sama nyinyir ya.
Kalo Pak Ahok berfikir ada yang sabotase, harus ada bukti nya Koh....skarang yg penting bantuin korban banjir dulu yeee...kamsia.
Semoga banjir cepet surut, dan semuanya selalu dalam lindungan Allah SWT, aamiin #cemangad ya penghuni Jakarta dan sekitarnya
#ILoveJakarta
Salam hangat dari Pakistan.q
February 9, 2015
Friday, January 9, 2015
Aku dan Negara Bernama Pakistan (Bagian Kedua)
Obrolan terbuka buat
ibu-ibu pelaku kawin campur Pakistan,
khususnya yang tinggal di Pakistan. Buat
yang gak ada hubungannya boleh ikutan, silahkan merapat duduk yang manis.
#gaya_rumpi... Kenapa ya orang suka
membahas kehidupan orang lain dengan pikirnnya sendiri ditambahi bumbu sendiri
padahal bisa ditanyakan langsung ke orangnya dengan jelas, kalau antara 2 orang
saya rasa masih wajar tapi kalau lebih dari 3 jadi seperti majlis rumpi dong ya
hehehehe….
Kalaupun sudah bertanya
langsung, nanyanya setengah2 gak diperjelas, sehingga jawaban yang diterima
akan dipelintir sendiri trus jadi bahan rumpi’an dengan embel2 “katanya”….luar
biasa. Saya tidak bermaksud
menyinggung siapapun, anggap aja obrolan ini sebagai hiburan juga bahan
renungan buat semuanya, terutama yang “merasa” ada dalam alur cerita ini.
Pekerjaan sebagai ibu
rumah tangga dengan beberapa anak ditambah keluarga suami memang menjadi
pekerjaan terberat didunia, saya memahami itu dengan SANGAT, karena saya juga
pernah mengurus bayi selama 3 tahun itupun masih kerepotan walaupun ada yang
bantu dan gak ditambah ribetnya ngurus inlaws………, jadi wajar saja kadang
ibu-ibu bosan dan perlu hiburan sekedar jalan-jalan di mall atau berkumpul dan
bertemu rekan-rekan sebangsa, sambil ngobrol ngalor ngidul membicarakan masalah
keluarga, perkembangan anak dan berita terhangat saat ini yaitu membahas
masalah saya #ooppsss
Saya
pernah menulis sedikit tentang perjalanan hidup saya sampai bisa di Pakistan,
yang ketinggalan silahkan klik disini http://deffisjourney.blogspot.com/2014/12/aku-dan-negara-bernama-pakistan.html
Masih diseputar laki-laki Pakistan yang berhubungan dengan
perempuan-perempuan Indonesia, karena itu memang menjadi concern saya yang
paling utama #cieh_bahasanye
Saya hanya berbagi info yang kiranya bisa menjadi persiapan
mereka kelak kalau akhirnya hidup mereka harus berada disini. Saat ini
info-info seputar kawin campur Pakistan sudah banyak, 8-10 tahun yang lalu
hampir tidak ada dan untuk itu beruntung sekali jika sekarang ada info-info
yang bisa dipelajari oleh orang-orang yang membutuhkan. Sekali lagi saya tegaskan TIDAK SEMUA laki-laki Pakistan seperti yang saya ceritakan sebelumnya
di group tentang Pakistan, juga tidak semua orang-orang Pakistan berperilaku
seperti bahasan-bahasan di group, TAPI
rata-rata memang begitu.
Informasi yang saya share memang “to the poin”, lugas dan apa
adanya, tergantung bagaimana cara orang lain menilai dan mengartikan kata-kata
saya karena setiap orang punya pemahaman yang berbeda-beda. Sayangnya....., banyak
yang tidak suka karena seolah-olah saya membuka aib mereka, padahal saya nggak
kenal dengan “mereka”, yang saya bahas kehidupan yang saya alami dan kehidupan
orang lain yang saya temui terutama perempuan Pakistan dengan kesehariannya
yang mungkin tidak bisa kita pahami. Para perempuan Pakistan harus bisa
bertahan dengan budaya yang sebetulnya mereka sendiri tidak suka, tapi mereka
tidak punya pilihan selain patuh, bersyukur kita menjadi perempuan Indonesia
yang masih bisa memilih jalan hidupnya dari sekolah, bekerja dan menentukan pasangan
hidup sendiri. Perempuan Pakistan dari kecil sudah dibiasakan tidak “memilih” tapi
menerima apa yang ada didepan mereka, tentunya kita tidak bisa bilang “kok mau ya?” ….ya itulah bagian dari budaya
mereka yang juga harus kita hormati. Kalau hal tersebut kita alami sendiri, pilihannya
adalah bertahan dan belajar dari perempuan-perempuan Pakistan itu, atau tetap
menjadi perempuan Indonesia tetapi harus ada yang dikorbankan, entah korban
perasaan atau korban yang lainnya.
Sering dan gencarnya saya berbagi info tentang kehidupan dan orang-orang Pakistan karena saya ingin para perempuan Indonesia mempunyai pertimbangan sebelum menikah dengan laki-laki Pakistan. Tentu saja semua info yang saya share tidak asal-asalan dan umumnya berdasarkan pengalaman pribadi saya dan orang-orang tertentu dengan situasi dan kondisi yang berbeda juga. Yang pasti pengalamannya berbeda antara pelaku kawin campur, pelajar/santri, pekerja atau orang-orang yang sekedar melancong karena penasaran dengan negara ini. Dalam group tentang Pakistan saya pribadi tidak pernah melarang apalagi membatalkan keinginan para perempuan-perempuan Indonesia untuk mempunyai hubungan sampai ke jenjang serius dengan laki-laki Pakistan….emang sape guwehh #bahasa_anak_sekarang.
Mungkin pada saat berkenalan yang dipikirkan ooh gantengnya....oohhh suami orang asing....ooohh tinggal di luar negeri.....ohhh sama-sama Islam....tapi dari yang sekian banyak oohhh itu perlu diingat, Islam yang kalian pelajari di Indonesia "agak" beda dengan Islam yang ada di Pakistan, saya akan bahas terpisah kalau ada yang penasaran. Poinnya aja deh, di Indonesia umumnya penganut Mazhab Syafi'i sedangkan Pakistan Mazhab Hanafi. Hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari terkadang menjadi bahasan seru soal agama ini, dari soal wudhu, haram tidaknya seafood, Mahar dalam perkawinan, Jehez atau Dowry yang sudah mengakar dibudaya mereka sejatinya adaptasi dari agama tertentu yang sudah tidak bisa dihapuskan walaupun mereka penganut Islam.
Di Pakistan, wanita menikah tanpa membawa barang-barang akan sangat merasa terhina dan tidak dihargai keluarga suami, tapi di Indonesia tidak seperti itu dan itu seperti duri dalam sekam keluarga suami khususnya mertua, karena mereka merasa tidak dihargai. Semakin banyak barang bawaan dan serba lux, akan semakin dihargai si menantu walaupun buruk rupa dan tidak bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Pokoknya kalau harta nya banyak mau jungkir balik kayak apa no problem. Trus gimana dengan kita-kita perempuan Indonesia yang menikah dengan mereka dan gak bawa apa-apa? Ya kasih muka manis didepan suami tapi dibelakang diomongin dan agak-agak "diganggu" lah....Makanya sering-sering nyogok ya biar disayang mertua wkwkwkwkwk #no_offense #jangan_tersinggung.
Tentang
Suami....,setiap wanita saat menikah pasti menginginkan suami yang bisa menjadi
pelindung dan imam dalam rumah tangga mereka, lelaki yang bertanggung jawab itu hukumnya wajib di Islam, baik secara moriil dan materiil. Bukan hanya untuk suami-suami Pakistani tapi banyak juga suami-suami Indonesia yang tidak bertanggung jawab dengan keluarganya, jadi sekali lagi tidak bisa dipukul rata, CUMA....dalam budaya Pakistan, istri tidak mempunyai hak mengatur keuangan rumah tangga, karena umumnya keluarga hidup dalam join family, yang artinya dalam satu rumah terdiri dari beberapa keluarga. Biasanya anak laki-laki tidak keluar rumah dan membawa istri nya masuk hingga beranak pinak. Sedangkan anak perempuan akan ikut suaminya dirumah mertua. Umumnya rumah-rumah di Pakistan besar kalau dari golongan mampu, kalau golongan bawah ya jadinya tumplek blek numpuk jadi satu #bayanginsendirideh...
Kembali ke Suami, keuangan rumah biasanya diatur ayah atau ibu mertua, dari keperluan dapur, isi rumah dan sebagainya harus nyadong sama mereka, bahkan sandang atau baju yang dipakai para mantu, si mertua akan mengaturnya....sekali lagi TIDAK SEMUA, tapi rata-rata begitu.
Di dalam budaya Pakistan, jika perempuan menikah, tanggung jawab sepenuhnya ada di keluarganya (ortu dan kakan-kakak lakinya), tanggung jawab suami hanya sepersekian persen saja, itupun kalau sudah punya anak, yang gak punya anak hampir gak diurus sama sekali, dapet makan 3 kali sehari aja udah alhamdulillah kali ya...sekali lagi TIDAK SEMUA, tapi rata-rata begitu. Umumnya juga ibu atau saudara perempuan suami yang selalu menjadi biang keladi dari keributan suami-istri, dan yang menjadi korban selalu sang istri. Suami akan baik-baik saja dikamar, tapi didepan keluarganya dia gak punya pilihan, kasian sebetulnya...tapi ya namanya hidup kan selalu ada resiko yang ditanggung, harus bisa mengatasinya dengan baik atau akan ada yang merasa tidak nyaman bahkan sampai merasa didzalimi.
Budaya Pakistan memang mengharuskan kita menghormati para orang tua, ya dimana aja juga sama kali ya...cuma sayangnya disini diterapkan dengan cara yang salah dengan orang-orang yang tidak menghargai orang lain. Suami misalnya, pasti akan sangat menyayangi ibu mereka, sudah pasti itu...tapi apa harus mengorbankan kebagahian harkat dan martabat sang istri?? oohh...tentu saja tidak....betul kan? istri juga punya hak dibahagiakan TAPI di Pakistan istri menjadi nomer sekian yang harus dipikirkan kebahagiaannya setelah ibu, saudara perempuan (kalo cuma satu, kalo 4-5, termehek-mehek deh), anak-anak baru deh istri. Dalam perkawinan Pakistan, semakin lama kehidupan akan semakin kacau bukan adem tentrem seperti kakek-nenek kita didesa, kenapa begitu? karena kepalsuan yang mereka tunjukan akhirnya terbuka...Allah maha adil...sekali lagi TIDAK SEMUA, tapi rata-rata begitu.
Dalam pandangan umum di Pakistan mempunyai anak adalah kunci kebahagiaan, kalau buat saya sih nggak ya #BUATSAYALHOO
Nikah belum punya anak, ditanya kenapa?....sudah punya anak trus dapetnya cewek, akan dikejar-kejar lagi bikin anak supaya dapet cowok, lahh piye tohh...emang waktu bikin anak bisa apa janjian minta jenis kelamin apa gitu?...atau waktu mau nikah udah tau bakal gak bisa punya anak apa nggak gituhh?? Wallahualam Bissawab....itu yang orang Pakistan pada umumnya belum bisa terima dengan baik.... sekali lagi TIDAK SEMUA, tapi rata-rata begitu. Pasangan menikah dengan bangsa apapun sejatinya mengharapkan keturunan, tapi kalau sekian lama berumah tangga belum juga mendapatkannya pasti hanya usaha dan do’a yang bisa diperbuat. Tapi di Pakistan tidak seperti itu, tidak ada pengertian dari orang sekitar, jadi pergunjingan dan seolah-olah tidak ada Tuhan yang mengatur langit dan bumi, adanya cuma mereka yang hanya bisa bilang “kenapa,kenapa dan kenapa??” lahh kenapa? Kalau tau jawabnya pasti diberitahu hehehehehe #tepoktangan.... Mereka manis dan baik didepan kita tapi dibelakang akan keluar semua perkataan yang tidak baik #semoga Allah memaafkan, aamiin.
Saya pelajari akhir-akhir ini banyak perempuan-perempuan Indonesia berstatus orang tua tunggal dengan beberapa anak yang berusaha menikah lagi dengan laki-laki Pakistani. Sekedar informasi, di Pakistan walau saat ini pernikahan ke-2 sudah mulai umum bagi perempuan Pakistan sendiri, tapi dikehidupan akar rumput sangat tidak bisa diterima. Perempuan-perempuan ini seolah-olah manusia yang tidak patut dijaga apalagi dihormati, TAPI semua tergantung keluarga masing-masing, yang saya bicarakan pada umunya bukan individu. Karena ini juga pernikahan saya yang ke-2 dan awalnya semua baik-baik saja sampai akhirnya saya memutuskan memilih jalan hidup saya sendiri. Sebetulnya gangguan yang saya terima tidak seberat perempuan-perempuan Indonesia lainnya, hanya saja mungkin, saya tidak suka diganggu jadi kalau ada gangguan saya tidak bisa mentolerir hal itu.
Beruntung saya bisa bekerja dan mempunyai penghasilan sendiri sehingga saya bisa jungkir balik salto sesuka hati, tapi itu bukan yang saya cari. Saya mencari kekosongan jiwa yang tidak bisa diisi dari orang yang tidak bisa menuntun saya.
Menjadi suami, tidak cukup hanya baik, pengertian, bertutur kata manis, dan memberi harta berlimpah, tapi yang paling penting bagaimana suami bisa dihormati, menjadi guru dan panutan sang istri, kalau hal-hal tersebut tidak ada dengan siapa istri akan menyandarkan kepalanya??? ke tembok, tiang apa pohon? kayak pelem2 India aja hiihihi...
Sejatinya setiap insan akan terus berusaha memperbaharui jiwanya, karena kuasa Allah hidayah pasti akan datang dengan sendirinya ke masing-masing orang yang mencari kesempatan untuk terus menjadi manusia yang baik dengan jiwa yang ingin selalu dekat dengan sang pencipta. Suami yang bisa menuntun istri sangat dianjurkan bahkan diwajibkan, sayangnya saya tidak menemukan itu disini, keinginan sholat berjamaah dengan suami tidak memungkinkan hanya karena perbedaan pengertian. Kehilangan sosok imam yang bisa memimpin keluarga adalah masalah utama saya di Pakistan. Akhirnya saya memutuskan untuk menyudahi kehidupan yang menurut saya tidak ada masa depannya. Saya tidak merasa kalau itu adalah keputusan yang salah, karena saya berfikir untuk kelangsungan kehidupan dua belah pihak yang sudah jalan ditempat dan tidak bisa bersatu sebagai pasangan, toh nyatanya hubungan itu tetap baik dengan label persaudaraan, saya tetap nyaman di Pakistan karena sudah tidak ada gangguan lahir bathin yang berakibat "sakit" nya jiwa dan raga....kalo boleh jujur, jawab deh pertanyaan saya ini, "apa suamimu sudah menjadi penuntun yang baik?" memang tidak ada manusia yang sempurna, bahkan ada yang bilang pernikahan menyatukan dua hal berbeda, tapi kalau soal agama diharuskan menyatukan perbedaan itu, kalau bisa berkompromi ya bagus sekali, kalau tidak bisa ya harus dihormati apapun keputusan yang bersangkutan.
Jadi kalau saya memilih untuk memulai hidup dari awal lagi, ada juga yang bilang dari nol....In shaa Allah itu semua atas seijin Allah SWT. Bayangkan dari 2010-2014 kira-kira 1460 hari dan setiap harinya saya harus menghitung menit ke menit, detik ke detik agar waktu cepat berlalu, terus berdo'a hanya itu yang saya bisa lakukan. Usaha apa yang bisa dilakukan disini selain berdoa, iya kan?? makanya jangan sepelekan kekuatan do'a. Dan kalian juga harus tau #daripada penasaran, beratnya perjuangan sampai bisa berkata "I'm leaving" semua perlu proses dan itu tidak mudah.
Well, tidak semua orang bisa menentukan jalan hidupnya sendiri dengan bebas, apalagi istri-istri Pakistani baik yang lokal atau kawin campur. Ada banyak hal yang membuat ruang gerak mereka terbatas dan juga situasi serta kondisi dimana orang tersebut berada.
Alhamdulillah saya adalah salah satu orang yang beruntung karena bisa melakukan apapun yang saya mau tanpa kekerasan dan ada bagian kabur-kaburan #no_offense
Pemikiran saya untuk keluar dari negara ini dimulai tahun 2008 (saya menikah 2006), puncaknya tahun 2010 dan sejak saat itu sampai akhir 2014 bukan hal yang mudah melewati hari-hari dimana “hati” tidak berpijak sementara “raga” ada disini, untungnya saya bekerja jadi gangguan agak bisa diredam saat saya duduk dikantor dari pagi hingga sore hari, Minggu hari libur yang ditunggu biasanya menjadi hari yang menyebalkan tapi tidak bisa dihindari. Hampir semua pelaku kawin campur di Pakistan mengalami hal yang sama didalam rumah tangga masing-masing, tapi kebanyakan disimpan sendiri karena merasa konsekwensi nya sudah menikah dengan orang Pakistan atau ada yang lebih keren “gengsi” dibilang susah, entah susah hati atau susah yang lainnya dan itu cuma Allah dan dirinya yang tau.
Tapi satu hal yang harus diingat, jangan pernah menggunjingkan kehidupan orang lain, karena bisa jadi satu saat hal itu akan kalian alami juga #naudzubillah dan kalau sampai gunjingan itu sampai kepada yang bersangkutan, hal itu akan menganggu karena sakitnya tuh disini #ngorek_kuping , beruntung orang yang digunjingin itu saya, udah biasa ngetop jadi santai aja berasa artis wkwkwkwk #jangandongkol
Apapun yang terjadi dalam kehidupan orang tersebut, dan apapun pilihan yang diambilnya, pastinya sudah dipikirkan
masak-masak oleh yang bersangkutan dan kita sepatutnya menghargai dan mendo’akan
yang terbaik pilihannya itu, lagian apapun itu gak menganggu kehidupan kalian kan?? bisa jadi menganggu ya jadi tambah sibuk rumpi dari urusan #SDK (Umur Dapur Kamartidur) yang sudah menyita waktu dan energi, janganlah....life is good, perbaiki terus kehidupan kalian tanpa ngurusin kehidupan orang lain, salam cinta dari saya untuk kalian semua, muaacchhhh #hugsandkisses
Faisalabad, Pakistan, Awal January 2015
Wednesday, December 31, 2014
Pergantian Tahun
Ini adalah tahun ke-9 saya melewati pergantian tahun di Pakistan.
Walaupun negara Islam, masyarakat merayakan nya dengan malu2, kenapa saya bilang malu2? Ya paling tidak lebih halus dari kata2 munafik.
Memang strata kehidupan yang timpang disini terkadang membelah persepsi bahwa orang miskin yang ta'at kesannya kampungan, dan orang kaya dengan uang nya bisa seenaknya menabrak norma2 agama Islam, ironis tapi itulah faktanya.
Muda-mudi akan berbisik-bisik merencanakan keluar rumah sekedar berdandan all out dan berputar - putar keliling kota dengan tertib supaya tidak dibilang "pagal" atau gila. Atau yang ada uang bisa sedikit keren dengan makan di resto, cafe atau tempat- tempat yang bisa mereka datangi sekedar pamer bahwa mereka sudah menjadi bagian dari masyarakat modern. Di akhir waktu kembang api mercon dan kemeriahan yang dibuat, akan mengakhiri tahun yang yang lewat dan kembali kehari esok kerutinitas yang menjemukan tanpa pilihan.
Itulah pergantian tahun di Pakistan. Pro kontra selalu dan pasti ada walaupun banyak juga yang ambigu.
Well, apapun yang dilakukan untuk melewati pergantian tahun, marilah kita berdo'a dan berusaha menjadi lebih baik ditahun mendatang. Baik lahir batin dan mental spiritual...aamiin Ya Rabb.
Buat semuanya dimanapun kalian berada, semoga sehat dan selalu dalam lindungan Allah SWT, aamiin.
Last winter 2014
Saturday, December 20, 2014
Sequel - Aku dan Negara bernama Pakistan
Dulu sebelum sampai Tanah Hijau itu, benak saya sama sekali tidak berfikir Pakistan adalah negara yang agak "terbelakang" dari Indonesia, tidak seperti orang-orang sekarang yang bisa dapat info dari mana saja, saat itu entah kalut bingung atau galau bahasa anak sekarang, saya benar-benar gak mau tau seperti apa Negara Pakistan itu. Satu-satunya info yang saya dapat dari KBRI Islamabad melalui jawaban staffnya "kalau bisa dipikir ulang untuk datang kesini"....penasaran sih nggak dengan jawaban itu, cuma satu yang ada dipikiran saya, cepat hengkang dari negeri Samurai itu. Akhirnya dengan diantar Shin-chan saya mengepakkan sayap ke negeri di wilayah Selatan Asia ini, tempat dimulainya babak baru kehidupan saya. Dari tahun 2006 sampai 2015 saya tinggal banyak suka duka nya, banyak pengalaman yang saya dapat, banyak pelajaran kehidupan yang saya lalui. Tidak ada manusia yang sempurna karena kesempurnaan hanya milik sang pencipta. Terlepas dari rasa nano-nano perjalanan hidup saya di Pakistan, hal yang paling saya syukuri saat ini saya sudah berada kembali di tanah air, alhamdulillah.
Location:
Central Jakarta, Central Jakarta
Friday, December 19, 2014
Jumma Mubarak
Alhamdulillah udah Jum'at lagi, hari yang selalu ditunggu karena tinggal sehari kerja dan hari lahir gue juga sih hehehehe. Basicnya semua hari sama bagusnya tapi seneng aja sama hari Jum'at #keukeuh (*_^))
Apalagi ngantor gak ada boss, berasa banget berkahnya dihari Jum'at. Hari Raya Magabut banget dan seperti biasa jungkir baliknya cuma di dumay disambi kerjaan kantor yang asal lewat, teleponan and sms'an sama #pujaanhati_orang_lain #hihihih, jadi kelihatannya sibuk padahal mah iya sibuukkk hahahah #apaseehhhh
Nggak tau kenapa ya perasaan kalo hari Jum'at berasa lebih religius aja, bukan berarti hari-hari lain nggak yaaa #jangansalahngartiindeh, dari malem Kamis dah mulai dengerin murottal dari para pemilik suara malaikat #mashaAllah, menyejukkan hati, sampe settingan music di bebe #bb_getoh diganti sama surat2 Qur'an #niat_taubat #alhamdulillah. Kalo lagi gak verboden #baca_dtgbln biasanya baca sendiri, gak usah denger suara nya yang penting niat ibadahnya #uhukkss.
Waktu masih di Jakarta, Jum'at itu kudu maksi keluar kantor, rame-rame para perempuan rumpi melakukan aktivitas mingguannya, dari yang window shopping sampe yang shopping beneran, heboh riweuh tapi fun. Malemnya biasa deh sama temen-temen deket berkelana dari cafe ke cafe, masa lalu yang sudah berlalu pastinya hehehe.
Well, buat yang besok libur selamat menikmati waktu yang berharga bersama keluarga. Saya tetep kerja demi sesuap recehan modal bikin warung di Jakarta nanti, aamiin.
Semoga teman-temanku semua selalu dalam lincungan ALLAH SWT dan tetap semangat menghadapi hidup ini, caiyooo....
Faisalabad, Musim dingin, Des 2014
Well, buat yang besok libur selamat menikmati waktu yang berharga bersama keluarga. Saya tetep kerja demi sesuap recehan modal bikin warung di Jakarta nanti, aamiin.
Semoga teman-temanku semua selalu dalam lincungan ALLAH SWT dan tetap semangat menghadapi hidup ini, caiyooo....
Faisalabad, Musim dingin, Des 2014
Aku dan Negara bernama Pakistan
Pakistan adalah sebuah negara di Asia Selatan, secara resmi bernama Republik Islam Pakistan (bahasa Urdu: اسلامی جمہوریۂ پاکِستان), tidak pernah ada dalam benak saya untuk mengunjungi apalagi menetap disini, dan nyatanya sudah masuk tahun ke-9 saya berada disini. Sedikit cerita dimasa sekolah, kalau ada seseorang berbicara tidak jelas kita akan mengejeknya "jangan pakai bahasa Urdu"...jujur saat itu saya pribadi tidak tahu kalau Urdu adalah bahasa nasional Negara Pakistan, dan sekarang saya harus berbicara dengan semua orang disini dengan bahasa itu....hidup memang penuh misteri (1).
Dulu sewaktu di Jakarta saya "kurang suka" dengan orang-orang dari negara sebelahnya Pakistan, sewaktu bekerja di daerah Hayam Wuruk didaerah Kota Jakarta Barat, saya sudah terganggu dengan aroma tubuh mereka, karena sering satu lift pulang pergi ke kantor, kebetulan di lantai yang berbeda ada sekolah bisnis atau manajemen yang kebanyakan muridnya keturunan negara tetangga Pakistan itu, mungkin itu pertanda kalau saya akan berada di Pakistan dan tetap saya tidak pernah berfikir sampai sejauh itu.
Saya penggemar berat segala sesuatu yang berbau Jepang, dari tahun 93 saya sudah mulai kursus bahasa Jepang dari yg di Gunung Sahari (EverGreen) sampai yang keren di Jl.Wijaya (JakartaCommunicationClub) dengan guru-guru nativenya, dari kelas yang beramai-ramai, sampai kelas private karena kesibukan saya ngantor jadi waktunya berbenturan. Di ingat-ingat ternyata saya pernah satu kelas dengan puterinya Bapak Wiranto dan menantu beliau yang dulu masih pacaran dengn puterinya...apa kabar Ail dan Abdi? (^_^))
Well balik ke cerita utama....kenapa saya berada di negara ini?
Ceritanya dipersingkat aja ya, takut bosen hihihih....., setelah punya pacar orang Jepang dan akhirnya menikah dengan Jepang yang muallaf, babak baru kehidupan dimulai, setelah 5 tahun menikah kami hijrah ke Jepang, soal hidup saya terbiasa mudah beradaptasi, alhamdulillah selalu diberi kelebihan tersebut sama ALLAH SWT.....di Jepang kehidupan berbeda jauh dengan Jakarta, walaupun rumah ex saya bukan seperti kandang burung seperti yang banyak di beritakan tentang kehidupan di Jepang. Tapi hidup di Jepang tidak bisa terlalu banyak leha-leha (baca:santai), kecuali sang suami punya kerjaan bagus dan bergaji besar mungkin saja, tapi cicilan rumah, mobil dan keperluan hidup yang serba mahal, menuntut seisi rumah untuk bekerja menyumbangkan penghasilannya. Mungkin juga karena saya terbiasa menjadi seorang wanita pekerja, gak bisa diem juga sayang otaknya kalo dianggurin, akhirnya saya bekerja, saya pilih yang sesuai dengan passion saya, memasak....jangan bayangin saya jadi koki ya....saya awalnya hanya pencuci piring disebuah dining resto yang menyatu dengan hotel di daerah sibuk Nagoya.
Saya menyukai pekerjaan itu sampai akhinya pelan-pelan sang Koki kepala melihat kalau saya mudah beradaptasi, akhirnya "naik pangkat" boleh bantu iris sayuran, mecahin telur yang dalam sehari bisa ratusan, menata makanan untuk pesanan luar, sampai akhirnya diperbolehkan menjadi pelayan langsung dari meja ke meja, juga tamu-tamu yang menginap dihotel yang bisa ratusan jumlahnya. Menata makanan Jepang tidak semudah menata makanan yang bias kita lihat sehari-hari, estetika kulinernya sangat tinggi, tidak boleh asal dan harus seragam 100%, sungguh melelahkan tapi selalu ada semangat ingin terus bertahan dan berhasil di negara keras itu. Rekan sejawat rata-rata nenek dan kakek yang mandiri, mereka tidak tergantung dengan anak-anak mereka atau memang sebatang kara. Tapi, tidak dengan kehidupan dirumah....beratnya luar biasa, mungkin karena perbedaan budaya dan kurangnya saling pengertian sehingga menyebabkan ketidak harmonisan, kebetulan dirumah ex ada ibu dan adik perempuannya yang sudah menikah dengan anak remajanya yang kurang tata krama seperti kebanyakan remaja-remaja Jepang yang broken home....akhirnya kurang dari 2 thn saya memutuskan angkat kaki dari Negara Sakura itu, proses didalam rumah berlarut-larut walaupun proses diatas kertas cuma perlu 1 jam saja.
Dari situ saya berfikir untuk "jalan-jalan" dulu gak usah balik ke Indo, pilihan jatuh ke Pakistan, karena ada seseorang dari negara itu yang sudah lama menetap di Jepang dan saya lihat baik, rupanya gayung bersambut jadilah "nekat" saya ke Pakistan dengan tujuan kerumah beliau. Orangnya lumayan moderat, atau sayanya yang terlalu berfikir "terbuka"....saya tidak pernah takut dengan apapun kehidupan yang ada didepan saya, karena saya yakin itu semua sudah menjadi rencana ALLAH SWT, jadi saya jalani dan hadapi saja, sedikit ngomel, kesel nggrutu ya nggak apa-apa kan? wajar sifat manusia begitu, apalagi saya bukan orang yang terlalu agamis, hanya berusaha menjadi orang Islam yang baik bagi semua manusia. Dan, entah apa yang diceritakan lelaki Pakistan ini ke keluarganya, yang pasti saya datang tidak untuk menikahi dia, bukan sebagai calon pengantin, tapi yang menjemput saya di bandara satu peleton, mengingat di Pakistan satu keluarga mempunyai arti jumlahnya sangat besar, saya yang kecil kurus imut dan manislah hahahah.....terkaget-kaget dibuatnya, karangan bunga, jalan-jalan keliling kota sampai menjelang subuh, benar-benar penyambutan yang luar biasa....sweet memory pake bingits (kosakata jaman kini)....3 bulan saya menjadi tamu keluarga, kehangatan, kebaikan dan yang manis-manis sudah disuguhkan untuk saya, dari awalnya tidak ada niat sampai akhirnya tidak kuasa menolak saat sang Ibu suri, anak-anaknya, cucunya yang mengatas namakan si lelaki itu meminta saya untuk tidak pergi dan meminang saya agar menikahi anaknya itu. Akhirnya saya terima dan September 2006 resmi saya menjadi pengantin Pakistani.
Bahasa, budaya dan adat istiadat yang berbeda tidak menganggu saya, justru saya jadikan tantangan yang harus ditaklukan....berhasil pastinya TAPI saya lebih terlihat menakutkan untuk mereka, karena jadi seperti cabe rawit, kecil bentuknya tapi pedasnya luar biasa. Saya bukan type manis didepan tapi beda dibelakang, saya tidak suka berpura-pura untuk menyenangkan orang lain, jika saya senang, suka, sedih dan kesal, akan terlihat jelas di raut wajah saya, dan itu TIDAK BOLEH bagi orang Pakistan, terutama perempuan Pakistan, mereka sangat ahli menyembunyikan semua duka lara mereka dengan sunggingan senyuman, bagi yang sudah menikah, kunjungan ke rumah orang tua sendiri sama artinya menumpahkan segala unek-unek yang dipasang di topeng mereka selama berada di rumah mertua, luar biasa dan saya tidak bisa dan tidak mau belajar menjadi seperti itu.
Setiap manusia tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi kemudian didalam hidupnya, begitu juga saya. Jenuh saya rasa nggak juga, saya punya pekerjaan bagus di Pakistan, kehidupan yang menyenangkan secara pribadi, tapi saya tetap merindukan Jakarta tempat saya lahir dan dibesarkan, jungkir balik disetiap sudutnya, selalu ada kerinduan yang harus dituntaskan....Pakistan memberi saya banyak pelajaran berharga, sangat berharga....belajar sabar, belajar mengenal karakter orang lain, utamanya karakter penjilat hehehe.....belajar kulinernya (terimakasih Aami Jaan yang sudah mau berbagi semua resep-resep otentiknya), belajar berkata tidak yang sebelumnya sangat sulit saya lakukan, banyakk dan banyaakk lagi hal-hal yang diluar dugaan dan saya pelajari di negara ini. Saya memang "keras" terhadap perempuan-perempuan muda yang sedang menjalin hubungan dengan laki-laki Pakistani, karena saya hanya ingin berbagi kalau kehidupan disini tidak seperti yang ada dalam gambar-gambar itu, atau bualan-bualan para lelaki di webcam itu, saya yang nggak digombalin aja merasa terlalu keras hidup disini, apalagi kalian yang digombali? kenyataan tidak sesuai dengan cerita bisa-bisa penonton kecewa huuuuuuuuu.... lebih baik menghindar sebelum terperosok, tapi kalau nekat paling tidak sudah tahu gambarannya, jodoh ditangan Tuhan dan ALLAH pasti akan memberi kekuatan menghadapi semuanya jika memang harus terperosok dan semangat untuk bangkit lagi, aamiin.
Saya kutip penggalan status seseorang disalah satu sosial media....
Dikala seseorang memiliki tujuan baru dalam hidup akan memancar dalam dirinya kemauan, kekuatan dan harapan, padahal tadinya hal ini ia rasakan tidak ada dalam dirinya. Itu sebabnya kala kita mengalami kelelahan, kebosanan dan keterpurukan hidup kita harus meletakkan tujuan baru agar mampu bangkit dari keadaan itu
Bagi seorang muslim yang tujuan hidupnya jelas menuju ALLAH jalan kesana tentulah panjang dan melelahkan setiap harinya kita perlu selalu memperbaharui niat agar tetap fokus pada tujuan dengan kemauan yang kuat.
Kelak...jika saya kembali ke Jakarta, saya tidak akan pernah melupakan negara ini, buat saya pribadi, Pakistan sangat bagus jika diikat dengan hati sebagai "saudara jauh" bukan sebagai "belahan jiwa" .... bersyukurlah bagi kalian yang bisa menyatukan jiwa yang terbelah itu diselingi celoteh-celoteh nan lucu malaikat kecil pelipur lara. Bagi yang kurang beruntung menyatukan serpihan-serpihan jiwanya, tetaplah bersyukur, selalu ada rencana indah dari ALLAH SWT, dan positifnya, selalu banyak hal baik yang kita bisa petik dan pelajari....tetaplah menjadi insan yang bersemangat, semangat menjaga hal-hal baik, semangat keluar dari hal yang tidak baik....semangat terus seperti slogan negara ini Pakistan Zindabad.
Faisalabad, Musim dingin , Des 2014.
Nih saya kasih bonus ya, foto-foto waktu acara pernikahan saya di Pakistan, September 2006.
Acara Mehndi, seperti malam midodareni kalau di Jawa
Wednesday, November 12, 2014
Aku bobo dulu ya cinta....
Kamu membuatku tak bisa memejamkan mata,
Biarkan aku tertidur dan mendekapmu dalam relung hatiku,
Menggenggammu dalam jemari rinduku,
Mengecupmu dengan untaian do'a-do'a ku,
Semoga sang pencipta menjaga Cinta kita,
Cinta yang tetap ada saat kita terjaga
Menggenggammu dalam jemari rinduku,
Mengecupmu dengan untaian do'a-do'a ku,
Semoga sang pencipta menjaga Cinta kita,
Cinta yang tetap ada saat kita terjaga
Saturday, November 8, 2014
Ruang Pakistan
Pakistan....sebuah negara di Asia Selatan ini memang selalu menarik untuk dibahas, disimak dan dimengerti khususnya bagi masyarakat Indonesia. Banyak sisi kehidupan didalamnya yang dapat di diskusikan bagi semua kalangan, dari ibu rumah tangga, pelajar, pekerja atau para petualang yang sekedar beranjang sana untuk menaklukan gunung-gunungnya yang menjulang seakan menembus langit.
Selama ini memang kesan tidak nyaman yang selalu terangkat kepermukaan, baik kekerasan domestik, isu teroris dan banyak hal lain yang sulit dimengerti karena besarnya perbedaayn budaya dan adat istiadat. Walaupun secara garis besar Pakistan dan Indonesia merupakan negara yang sama-sama memiliki penganut Islam terbesar didunia.
Dari segi pendidikan, banyak pelajar dan santri Indonesia yang melanjutkan pendidikan di universitas terbaik di negara ini atau di pondok pesantren setempat yang orang Pakistan biasa menyebutnya Madrasa.Dari sisi hubungan pribadi sendiri, banyak pasangan-pasangan baru yang sedang menjalin hubungan hingga melakukan kawin campur menyusul pasangan-pasangan lain yang sudah lebih dulu menetap dan memiliki keluarga kecil. Banyak juga pasangan-pasangan yang tidak beruntung yang dengan berbagai alasan memilih jalannya masing-masing.
Dari segi pendidikan, banyak pelajar dan santri Indonesia yang melanjutkan pendidikan di universitas terbaik di negara ini atau di pondok pesantren setempat yang orang Pakistan biasa menyebutnya Madrasa.Dari sisi hubungan pribadi sendiri, banyak pasangan-pasangan baru yang sedang menjalin hubungan hingga melakukan kawin campur menyusul pasangan-pasangan lain yang sudah lebih dulu menetap dan memiliki keluarga kecil. Banyak juga pasangan-pasangan yang tidak beruntung yang dengan berbagai alasan memilih jalannya masing-masing.
Saya pribadi menyukai kehidupan Pakistan diluar dari kehidupan domestik yang saya jalani, kebetulan saya wanita bekerja dan saya cukup mampu berinteraksi dengan masyarakat Pakistan pada umumnya. Hampir 9 tahun berlalu saya menjadi bagian dari Pakistan dan mempelajari setiap ritme kehidupan didalamnya. Banyak ilmu yang saya dapat, dari cara mereka bekerja, cara mereka bersosialisasi, cara mereka melatih kesabaran saya, dan tentu saja yang menjadi favorit saya adalah kuliner mereka, walaupun saya "kurang" menyukai masakan Pakistan pada umumnya.
Sudah banyak bahasan mengenai Pakistan dari segi negative, tujuannya bukan untuk "black campaign" tetapi untuk lebih memberi pemahaman bagi para pelaku kawin campu untuk mempersiapkan diri, mawas diri dan jangan sampai merepotkan banyak pihak jika satu saat mereka akan menetap dengan keluarga baru mereka di Pakistan.
Dan kali ini ada seorang rekan dan teman-temannya yang memfokuskan pembahasan tentang Pakistan diseputar pendidikan dan budaya juga tentang kuliner Pakistan, semoga Pakistan dengan segala sisinya bisa dinikmati dan dapat menjadi pembelajaran untuk semua kalangan, silahkan ditengok linknya http://ruangpakistan.com/ semoga bermanfaat.
Selamat menikmati kehidupan ini, semoga Allah SWT senantiasa melindungi kita semua, aamiin (^_^))
Wednesday, April 2, 2014
Politik Uang dan Hukum Subhat
Saat ini masyarakat Indonesia sedang mempersiapkan pesta demokrasi yang akan berlangsung beberapa saat lagi.
Saya yang berada jauh dari tanah air
antusias sekali menyambut perhelatan akbar ini, lucu juga ya, padahal dulu saya
Golput sejati alias tidak memberikan suara dalam pemilihan umum sejak saya
memiliki hak pilih.
Saya ingat sewaktu masih di sekolah
menengah saat partai No.2 berkuasa, kami semua mendapat dua ribu perak tapi harus
coblos partai itu, dan yg nekat tidak memilih namanya jadi ngetop hehehe….yo
wis lah itu dulu masa lalu, yang dimasa kampanye ini partai itu ngetop banget
dengan pameo nya “piye kabare masih enak jamanku to" ………hahahaha.
Tapi sejak majunya SBY alias
Susilo Bambang Yudhoyono sebagai kandidat presiden pada masa itu, saya jadi
agak antusias dan mulai menjadi penyumbang suara tapi tetap Golput cuma jadinya
Golongan Putri. Singkat cerita partai nya Bapak SBY menang dan beliau menjadi
Presiden RI, senanglah saya karena suara saya mempunyai andil pengantar beliau menjadi RI-1.
Periode kedua SBY, saya juga sumbangkan suara untuk beliau, tapi
manusia tidak ada yang sempurna rupanya kinerja si bapak beserta jajarannya
melorot tajam entah mau dibawa kemana negeri tercinta ini.
Dan Pemilu kali ini jelas-jelas saya
tidak akan memilih kandidat dari partai beliau lagi #kapoookkkkkk (^_^)).
Masih pikir-pikir mau kasih suara saya
ke siapa ya? tiba-tiba muncul jagoan kita yang banyak orang menilai sebagai
jagoan neon, sang Gubernur yang baru minum jamu pahit seperempat gelas masa
tugasnya memimpin kota saya yang tercinta, Jakarta.
Beliau di hujat sana-sini dianggap gak
becus padahal banyak perubahan significant sudah terlihat.
Bukan orang Indonesia ya kalo gak
nonton sambil ngenyek, boro-boro bantuin, sumbang saran juga ogah
hehehehe....wess pokoe dinyeekkk sak karep udele.
Saya pribadi sangat mengagumi pribadi
beliau yang membumi, gak sok agamis karena agama itu kan antara manusia dan
Tuhannya…..hallahh.
Sekedar mengagumi itu bukan statement
kalau saya akan memberikan suara saya kepada partai yang menaungi beliau.
Hanya saya berharap para candidat yang
lain mungkin bisa meniru sepak terjang beliau yang merakyat.
Banyak kok orang-orang yang sok
memberikan statement coblos ini coblos itu tapi aslinya mereka gak coblos
partai yang di koar-koar kan.
Mereka cuma jadi corong iklan karena
dibayar, waahhh dibayar, enak dong....mau dong....wani piro ya?
hahahahahhaha....ooppsss
Seuriues mau doong...tiket PP aja deh
Pakistan – Indonesia….. hahahaha #ngimpiiiiii_sapeluuhh, kalo udah gini saya akan jadi Golput yang lain alias Golongan Pencari Uang Tunai...hahahahah
Berpolitik itu rumit ada juga yang
berpolitik praktis dan malah yang banyak berpolitik ngemis....heheheh bingung
ya? gini loohh #gaya_politikoes.
Saya ngebahas yang terakhir aja yaitu
politik ngemis.
Banyak sekarang-sekarang ini partai
politik yang "mungkin" menjalankan aksi ngemis, meminta suara tapi
caranya elite dengan menyebar uang (gak ada laporan khusus tp pastinya ada tohh
hihihi).
Hebat banget ya uangnya dari mana ituhh??
bagi-bagilah siniihhh!!!
Kalau sudah begini kita kembalikan lagi
kapada individunya masing-masing.
Kalau saya sih gak mau dibayar murah
dan gak munafik juga siapa yang gak mau uang.
Hari gini gitu pipis aja bayar, eh...
tapi kalau di Pakistan tempat saya tinggal gratis plus jadi tontonan karena
asal "ndodok" eperiwereeeeeeee #qiqiqiqiq_intermezzo (^_^)) #orang-lokalnya ya hihihih
Kembali ke politik uang dalam Pemilu,
entah partai biasa atau partai Islam, pasti adalah itu pasukan bawah tanahnya
yang bergerilya mengumpulkan suara-suara demi tercapainya quota di kantong
daerah masing-masing, ada istilah "serangan fajar", wahh yang udah
kawin mah enak aja ituhh hahahahaha #out_of_topic.
Ada juga yang terang-terangan membeli
dengan nominal tertentu, ada yang membagikan sembako dan macam-macam bingkisan.
Tapi sekarang ini para pemilih sudah
tidak bisa dibodohi, mereka terima semua bingkisan dan uang nya tapi saat
mencoblos mereka pilih partai pujaan hati.
Ada juga yang terang-terangan
(katanyahhh) "memaksa" untuk mencoblos partai pemberi uang, wahhh
kalo ini mah pemerkosaan hak asasi namanya.....tega nian kemana hati
nuraninya...uhuhuhuhuh
Bagi saya yang awam dan tidak terlalu
"agamis" walaupun saya sedang belajar menjadi insan yang lebih
baik #inget_umur hihihihi
Politik uang yang jelas-jelas salah
tapi dibenarkan jatuhnya Subhat, malah ada yang bilang kalau sudah memaksa dan
sampai pemerkosaan hak asasi itu jadinya Rishwat atau
Suap (penyuapan) dalam bahasa Indonesia.
Enak sih ya di suapin,
dijejelin, dicekokin uang, nikmatnya gak
seberapa, ngotorin mulut dan perut dan lebih parahnya ngotorin jiwa dan raga,
naudzubillah ya saudara/i.... #gaya_ustadzah_dadakan.
Kembali lagi kepada
orang-orang pelaku Subhat dan Rishwat, semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosa mereka dan diberi kesadaran kalau
yang mereka lakukan itu salah.
Jangan karena mengatas namakan agama lantas semua dihalalkan, hajar
bleehhhh busyeett dong yaahhh, jijik bin enekk, yang dibicarakan
agama tapi yang dikerjain kayak mafia, hantam kromo byuh byuh....
Saya bukan mau ber'sok-sok tahu dengan semua bahasan diatas, paling nggak saya mencoba meyuarakan isi hati saya. Pelaaannn aj nggak pake njerit kok (^_^))....soalnya Mas'ku bilang suaraku dah cempreng wkwkwkwk!!. Buat teman-teman yang masih awam apa itu Subhat, dibawah ini saya copas'kan detailsnya dari link di Wikipedia Bahasa Indonesia.
Maaf kalau ada salah kata dan kurang berkenan karena saya hanya manusia biasa yang manis yang mencoba mengeluarkan uneg-uneg hati, selamat menyambut pesta demokrasi, gak usah koar-koar jadilah pemilih cerdas, cukup ikuti kata hati dijalan yang baik tentunya, semoga semuanya lancar-lancar saya aamiin.
Saya bukan mau ber'sok-sok tahu dengan semua bahasan diatas, paling nggak saya mencoba meyuarakan isi hati saya. Pelaaannn aj nggak pake njerit kok (^_^))....soalnya Mas'ku bilang suaraku dah cempreng wkwkwkwk!!. Buat teman-teman yang masih awam apa itu Subhat, dibawah ini saya copas'kan detailsnya dari link di Wikipedia Bahasa Indonesia.
Maaf kalau ada salah kata dan kurang berkenan karena saya hanya manusia biasa yang manis yang mencoba mengeluarkan uneg-uneg hati, selamat menyambut pesta demokrasi, gak usah koar-koar jadilah pemilih cerdas, cukup ikuti kata hati dijalan yang baik tentunya, semoga semuanya lancar-lancar saya aamiin.
(http://id.wikipedia.org/wiki/Syubhat)
Syubhat, Syubuhat, atau Subhat
Merupakan istilah didalam Islam yang menyatakan tentang keadaan yang samar tentang kehalalan atau keharaman dari sesuatu. Syubhat juga dapat merujuk kepada sebuah keadaan kerancuan berpikir dalam memahami sesuatu hal, yang mengakibatkan sesuatu yang salah terlihat benar atau sebaliknya. Dalam permasalahan kontemporer seringkali umat yang awam menghadapi permasalahan yang belum jelas dan meragukan sehingga dibutuhkan keterangan atau penelitian lebih lanjut, syariat Islam menuntut segala sesuatu dilakukan atas dasar keyakinan bukan keragu-raguan. Sering kali dibutuhkan fatwa dan ijtihad ulama untuk menentukan status hukumnya.
Definisi menurut bahasa Indonesia
Didalam KBBI didefinisikan sebagai "keragu-raguan atau kekurangjelasan tentang sesuatu (apakah halal atau haram dsb); karena kurang jelas status hukumnya; tidak terang (jelas) antara halal dan haram atau antara benar dan salah. Kata kerja bersyubhat berarti "menaruh keragu-raguan"[1].
Definisi menurut istilah syar'i
Syubhat adalah ketidakjelasan atau kesamaran, sehingga tidak bisa diketahui halal haramnya sesuatu secara jelas. Syubhat terhadap sesuatu bisa muncul baik karena ketidakjelasan status hukumnya, atau ketidakjelasan sifat atau faktanya. Status hukumnya dapat diketahui baik berdasarkan nash ataupun berdasarkan ijtihad yang dilakukan ulama dengan metode qiyas, istishab, dan sebagainya.
Syubhat berbeda dengan perkara yang sudah jelas pengharamannya, atau dengan halal, makruh, wajib, dan sunat. Syubhat muncul karena ketidaktahuan, bukan dari pengetahuan. Kondisi tersebut akan terus meragukan dan tidak akan pernah melahirkan kemantapan dalam menentukan sikap, hingga datangnya penjelasan dari ulama. Kondisi seperti ini umumnya dialami kebanyakan oleh kelompok awam. Syubhat sesungguhnya menggambarkan pengetahuan objektif sebagian besar orang terhadap status hukum suatu perkara. Sebab, dalam pandangan hukum syariat, tidak ada satu pun masalah yang tidak memiliki status hukum. Sekalipun kadang-kadang diperdebatkan, ketidakjelasannya bukan karena keraguan, tapi berlandaskan keilmuan yang jelas. Seseorang yang masih ragu-ragu terhadap hukum suatu perkara, dan belum jelas mana yang benar baginya, maka perkara itu dianggap syubhat baginya, dia harus menjauhi perkara tersebut hingga jelas baginya status kehalalannya. Sedangkan bagi orang yang tahu (faham/berilmu), status perkaranya sudah jelas, walau kadang terdapat perbedaan pendapat dikalangan Ahlul ilmi (ulama), utamanya di antara mazhab-mazhab fiqih.
Landasan Hukumnya
Dari hadits yang terdapat dalam Shahihain dan juga dalam Arbain Nawawi :
”Dari Abu Abdillah Nu’man bin Basyir radhiallahuanhu dia berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW. bersabda: Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Diantara keduanya terdapat perkara-perkara yang syubhat (samar-samar) yang tidak diketahui oleh orang banyak. Maka siapa yang takut terhadap syubhat berarti dia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Dan siapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka akan terjerumus dalam perkara yang diharamkan. Sebagaimana penggembala yang menggembalakan hewan gembalaannya disekitar (ladang) yang dilarang untuk memasukinya, maka lambat laun dia akan memasukinya. Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki larangan dan larangan Allah adalah apa yang Dia haramkan. Ketahuilah bahwa dalam diri ini terdapat segumpal daging, jika dia baik maka baiklah seluruh tubuh ini dan jika dia buruk, maka buruklah seluruh tubuh; ketahuilah bahwa dia adalah hati “.— Hadits Riwayat Al-Bukhari dan Muslim.
Salah satu kaidah ushul fiqih berbunyi: "والأصل في عاداتنا الإباحة حتى يجيء صارف الإباحة" Wal aslu fi ‘adatinal ibahati hatta yajii u soriful ibahah “Dan hukum asal dari sesuatu adalah boleh (halal), sampai ada dalil (nash) yang memalingkan dari hukum asal (menjadi haram)“.
Kategori Syubhat menurut pendapat ulama
Imam Ahmad menafsirkan bahwa syubhat ialah perkara yang berada antara halal dan haram yakni yang betul-betul halal dan betul-betul haram. Dia berkata, "Barangsiapa yang menjauhinya, berarti dia telah menyelamatkan agamanya. Yaitu sesuatu yang bercampur antara yang halal dan haram."
Ibnu Rajab berkata, "Masalah syubhat ini berlanjut kepada cara bermuamalah dengan orang yang di dalam harta bendanya bercampur antara barang yang halal dan barang yang haram. Apabila kebanyakan harta bendanya haram, maka beliau berkata, 'Dia harus dijauhkan kecuali untuk sesuatu yang kecil dan sesuatu yang tidak diketahui.' Sedangkan ulama-ulama yang lain masih berselisih pendapat apakah muamalah dengan orang itu hukumnya makruh ataukah haram”
Al-Shan'ani berpendapat bahwa yang dimaksud dengan syubhat adalah hal-hal yang belum diketahui status halal dan haramnya hingga sebagian besar orang yang tidak tahu (awam) menjadi ragu antara halal dan haram. Hanya para ulama yang mengetahui status hukumnya dengan jelas, baik berdasarkan nash ataupun berdasarkan ijtihad yang mereka lakukan dengan metode qiyas, istishb, dan sebagainya. Adapun menurut Taqiyuddin An-Nabhani arti dari syubhat adalah ketidakjelasan atau kesamaran, sehingga tidak bisa diketahui halal haramnya sesuatu secara jelas. Syubhat terhadap sesuatu bisa muncul baik karena ketidakjelasan status hukumnya, atau ketidakjelasan sifat atau faktanya.
Monday, March 24, 2014
LAB PE AATI HAI DUA (From the Lips comes a Prayer) By Allama Iqbal
LAB PE AATI HAI DUA
(From the Lips comes a Prayer)
By Allama Iqbal
Lab pe aatii hai Duaa bana ke Tamanna Meri
Zindagii Shamma ki Surat ho Khudayaa Meri
Door Duniya ka Mere dam se Andheraa hu jaaye...
Har jaga Mere Chamakane se Ujaalaa ho jaaye...
Ho Mere dam se Yun hi Mere Watan ki Zeenat...
Jis tarah Phool se hoti hai Chaman ki ZeenatZindagii ho Meri,
Parawaane ki Surat Yaa Rab!!
ilm ki Shammaa se ho Mujh ko Mohabbat aaa Rab
Ho Meraa kaam Gareebon ki Himaayat karana
Dard-mandon se Za'eefon se Mohabbat karana
Mere Allah Buraai se bachaanaa mujh ko
Naik jo Raah ho us Raah pe chalanaa mujh ko
From the Lips comes a Prayer in the form of a Desire,
My life should emulate a Candle, Oh God,
A candle burns itself to provide light for others,
Lift the Worldly Darkness due to my efforts,
Every place should be enlightened by my Light,
My life should decorate my Homeland similar to,
Similar to, a flower decorating a Garden,
Dear God, emulate my life like a Insect,
I should fall in Love with the Candle of Knowledge,
My work should be to support the poor,
Those in pain and the feeble ones I should love,
My God save me from doing Bad things,
Please guide me, to the right.
(From the Lips comes a Prayer)
By Allama Iqbal
Lab pe aatii hai Duaa bana ke Tamanna Meri
Zindagii Shamma ki Surat ho Khudayaa Meri
Door Duniya ka Mere dam se Andheraa hu jaaye...
Har jaga Mere Chamakane se Ujaalaa ho jaaye...
Ho Mere dam se Yun hi Mere Watan ki Zeenat...
Jis tarah Phool se hoti hai Chaman ki ZeenatZindagii ho Meri,
Parawaane ki Surat Yaa Rab!!
ilm ki Shammaa se ho Mujh ko Mohabbat aaa Rab
Ho Meraa kaam Gareebon ki Himaayat karana
Dard-mandon se Za'eefon se Mohabbat karana
Mere Allah Buraai se bachaanaa mujh ko
Naik jo Raah ho us Raah pe chalanaa mujh ko
From the Lips comes a Prayer in the form of a Desire,
My life should emulate a Candle, Oh God,
A candle burns itself to provide light for others,
Lift the Worldly Darkness due to my efforts,
Every place should be enlightened by my Light,
My life should decorate my Homeland similar to,
Similar to, a flower decorating a Garden,
Dear God, emulate my life like a Insect,
I should fall in Love with the Candle of Knowledge,
My work should be to support the poor,
Those in pain and the feeble ones I should love,
My God save me from doing Bad things,
Please guide me, to the right.
RISAU
Belum juga kau pergi sudah terasa jauh,
Tak bisa kugapai apalagi kusentuh,
Makin sedih hatiku hendak kemana berlabuh,
Kan slalu kutunggu layarmu menurunkan sauh,
Aku tak hendak berputus asa apalagi mengeluh,
Hanya do'a dan harap tuk menghalau jenuh,
Hingga saatnya nanti diriku kau rengkuh.
#SayapHatiku
Tak bisa kugapai apalagi kusentuh,
Makin sedih hatiku hendak kemana berlabuh,
Kan slalu kutunggu layarmu menurunkan sauh,
Aku tak hendak berputus asa apalagi mengeluh,
Hanya do'a dan harap tuk menghalau jenuh,
Hingga saatnya nanti diriku kau rengkuh.
#SayapHatiku
Thursday, March 13, 2014
Menghitung dan Menunggu
5Thn x 365 = 1,825hari = 43,800jam = 2,628,000menit = 157,680,000detik
Waktu tak akan bisa menghalangi selagi kita mampu untuk menunggu dan semoga tak ada yang berubah oleh sang waktu itu sendiri #aamiin_YRA
#SayapHatiku
Waktu tak akan bisa menghalangi selagi kita mampu untuk menunggu dan semoga tak ada yang berubah oleh sang waktu itu sendiri #aamiin_YRA
#SayapHatiku
Faisalabad - Pakistan, Mach 11, 2014
Subscribe to:
Posts (Atom)





